Peringatan Hari Buku Sedunia: Sejarah Serta Peringatannya di Indonesia

 

Adakah diantara kawan-kawan sekalian tahu bahwa pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 23 April besok diperingati sebagai hari buku internasional? Jika iya maka kalian adalah orang yang gemar membaca. Jika pun kalian belum mengetahuinya maka inilah saat bagi kalian untuk memulai mencintai buku yang sering diibaratkan sebagai jendela dunia. Mengapa harus mencintai buku? Mengapa harus membaca buku? Mungkin itu pertanyaan awal yang selalu muncul ketika seseorang mengingatkan kalian untuk gemar membaca. Wajar sekali jika pertanyaan itu muncul bagi sebagian kawan-kawan sekalian karena berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Memprihatinkan bukan? Tapi itu hanyalah sebuah peringkat semata, bukan tidak mungkin peringkat membaca kita akan terus naik walau sedikit demi sedikit jika pada masing-masing diri kita menanamkan semangat membaca demi memperluas wawasan yang kita miliki.

Kembali lagi pada tema awal yakni memperingati hari buku sedunia, sejarah diperingatinya tanggal 23 April sebagai peringatan hari buku sedunia menurut catatan sejarah, hari buku ini berawal pada peringatan kematian Miguel de Cervantes, seorang penulis Spanyol, yang jatuh setiap tanggal 23 April. Peringatan kematiannya ini dilakukan pertama kali pada 23 April 1923 oleh para pedagang buku di Spanyol. Dan pada 23 April 1995, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia. Secara kebetulan tanggal 23 April adalah hari lahir dan kematian beberapa penulis terkenal. Seperti: Wiliam Shakespeare, kematian Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla, dan kelahiran Maurice Druon, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness.

Di Indonesia sendiri, perayaan hari buku sedunia dimulai pada tahun 2006 yang diprakarsai oleh FIM (Forum Indonesia Membaca). FIM adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berkonsentrasi pada aktivitas literasi. Mereka berupaya membuka ruang seluas–luasnya kepada masyarakat dalam penguatan gemar membaca yang diharapkan akan menjadi sebuah budaya baru bagi masyarakat Indonesia. Sejak tahun 2006, animo dari komunitas literasi, taman bacaan masyarakat, penerbit buku, dan masyarakat umum semakin meningkat, bersama-sama berupaya agar peringatan hari buku di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan itu sendiri. Dan dalam perayaan setiap tahunnya, UNESCO menetapkan sebuah kota sebagai World Book Capital. Fokusnya adalah pada kaum muda yang diharapkan akan membawa pengaruh positif akan budaya buku, membaca, menulis, dan dalam dunia penerbitan serta peringatan ini menjadi bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan serta komunitas-komunitas yang diharapkan dengan penetapan UNESCO pada tanggal 23 April sebagai hari buku sedunia ini membuat kita lebih giat dalam membaca buku.

 

Lalu kalian kapan mulai gemar membaca? Mulailah membiasakan diri berkunjung ke Perpustakaan maka gairah untuk membaca buku pasti akan timbul.